Menguak Silsilah dan Sejarah Kampung Arab Rujing serta Berdirinya Ponpes Darul Hikam Sukaoneng
Fondasi Awal: Generasi Emas K.H Arsyad dan Nyai Fatimah
Lempengan sejarah di Desa Sukaoneng bermula dari seorang kyai keturunan keluarga asal Sulawesi bernama K.H Arsyad. Beliau merupakan putra dari Suryani yang menetap di perkampungan Dhejhe Ropet, Desa Sukaoneng.
K.H Arsyad menikah dengan seorang perempuan luar biasa bernama Nyai Fatimah (akrab disapa Nyai Imah). Pasangan inilah yang menanamkan benih generasi emas keilmuan di Sukaoneng. Nyai Fatimah dikenal sebagai ulama perempuan yang sangat alim; beliau memulai riwayat keilmuannya dengan menghafal hadis-hadis di dalam Kitab Al-Hikam. Bahkan, di masa tuanya saat fisik beliau sudah tidak dapat melihat, Nyai Fatimah berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan diyakini oleh masyarakat Rujing sebagai seorang Hafizah.
Dari pernikahan suci K.H Arsyad dan Nyai Fatimah ini, lahirlah seorang putri bernama Rukyenah. Melalui rahim Rukyenah inilah kelak lahir sang tokoh kunci perkembangan intelektual Bawean, yaitu Kyai Muhammad Amin (bin Sawar).
Dusun Rujing: Mengapa Dijuluki "Kampung Arab"?
Pada periode kehidupan K.H Arsyad dan keluarganya, sebuah dusun kecil bernama Dusun Rujing (Rojing) di Desa Sukaoneng mulai dikenal luas dengan sebutan Kampung Arab.
Berbeda dengan asumsi awam bahwa julukan tersebut dikarenakan adanya imigran dari Timur Tengah, penelitian sejarah membuktikan bahwa sebutan "Kampung Arab" disematkan karena dusun ini merupakan "markas" bagi masyarakat Sukaoneng yang sering melakukan ibadah haji.
Masyarakat di sekitar dusun tersebut—khususnya wilayah Rujing bagian utara—melihat atmosfer kehidupan di sana sangat mirip dengan tanah Arab. Ditambah lagi, masyarakat Rujing tempo dulu terkenal memiliki tradisi keagamaan yang sangat kuat, fasih menguasai Al-Qur'an, ilmu hadis, serta memiliki kedalaman penguasaan kitab-kitab kuning (tafaqquh fiddin).
Kyai Muhammad Amin: Santri Kelana Sang Penggerak Zaman
Cucu dari K.H Arsyad, yaitu Kyai Muhammad Amin, tumbuh menjadi tokoh sentral. Seperti pemuda Bawean tempo dulu, beliau menjalani tradisi merantau ke Pulau Jawa (Pasuruan, Probolinggo, hingga Lumajang) untuk berdagang tikar khas Bawean sembari menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Salah satu guru yang sangat memengaruhi sanad keilmuannya adalah K.H Zainal, ulama karismatik asal Pasuruan.
![]() |
| Gambar Kyai Moh.Amin |
Setelah kembali ke Bawean pada masa kolonial Belanda, Kyai Muhammad Amin mulai mengajar secara sembunyi-sembunyi dari pengawasan penjajah hanya dengan bermodalkan papan tulis kecil ukuran 1 kali 1 meter. Kegigihannya berbuah manis dengan berdirinya sistem klasikal bernama Madrasah Miftahul Ulum pada tahun 1934. Kiprahnya di dunia Islam sangat disegani, bahkan beliau menjadi tokoh penting di balik terselenggaranya Muktamar Nahdlatul Ulum (NU) pertama di Pulau Bawean dan menjadi utusan resmi dalam Muktamar NU di Surakarta pada 29 Desember 1962.
Prakarsa Lahirnya Pondok Pesantren di Rujing (Cikal Bakal Darul Hikam)
Semangat Kyai Muhammad Amin dalam memperluas pendidikan Islam di Sukaoneng tidak pernah padam. Beliau tidak hanya mengajar di kediamannya, tetapi juga menjadi prakarsai utama di balik berdirinya sebuah pondok pesantren tradisional di Dusun Rujing yang berdiri sejak tahun 1947 silam.
![]() |
| Foto: Pesarean Kyai Mas'udi yang dipagar hijau Lokasi: Ponpes Darul Hikam Rujing |
Pondok pesantren Darul Hikam di Rujing ini pada awalnya diasuh oleh Kyai Mas’udi. Ikatan kekeluargaan dan sanad keilmuan di dusun ini terjalin sangat erat ketika Kyai Mas’udi kemudian mengangkat Kyai Muhammad Hasan bin Tamar sebagai anak angkat sekaligus meneruskan tongkat estafet kepengasuhan Pesantren Darul Hikam di Rujing. Kyai Muhammad Hasan sendiri tidak lain adalah sepupu dari Kyai Muhammad Amin.(anak dari Kyai Mustamar bin Kyai Arsyad).
![]() |
| Foto Almaghfurlah Kyai.H.Moh. Hasan |
Dari rahim pesantren tradisional di Rujing yang diprakarsai oleh Kyai Muhammad Amin dan dikembangkan oleh Kyai Mas'udi serta Kyai Muhammad Hasan inilah, lembaga pendidikan Pondok Pesantren Darul Hikam Rujing Sukaoneng terus bertransformasi hingga masa sekarang yang di asuh langsung oleh Kyai.Zakariyah Anshor (Putra K.H.Moh.Hasan).
Kami menulis sejarah ini berdasarkan hasil penelitian sejarawan Islam Bawean yang bernama Burhanuddin.




Komentar
Posting Komentar